RSS

Kebangkitan Rakyat Saudi & Bahrain

22 Dec

Kebangkitan rakyat Bahrain dan Arab Saudi telah menjadi korban dari kebijakan standar ganda Barat yang mengaku sebagai pembela demokrasi dan hak asasi manusia. Pemerintah dan media-media Barat sengaja tidak mengekspose protes dan kebangkitan di Bahrain dan Saudi. Mereka bahkan berupaya mengesankan bahwa jeritan rakyat di kedua negara monarki mutlak itu sebagai peristiwa biasa dan tidak penting. Namun, realitanya adalah gerakan kebangkitan rakyat untuk menuntut kebebasan terus berlanjut di negara tersebut.

Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa menyebut mayoritas warganya sebagai “kelompok sesat” dan mengklaim bahwa mereka mendapat bantuan pihak asing untuk mengobarkan kerusuhan di Bahrain. Raja Hamad mengatakan, kelompok sesat telah menyeret Bahrain ke lingkaran kerusuhan untuk meraih tujuan politiknya. Raja Bahrain juga mendesak parlemen untuk mengesahkan undang-undang yang menindak kelompok anti-rezim dan menilai aksi rakyat sebagai ancaman bagi persatuan dan keamanan nasional.

Akan tetapi, klaim Raja Bahrain tersebut bertolak belakang dengan berbagai laporan organisasi HAM dan pengamat internasional. Menurut berbagai lembaga HAM, sejak tanggal 14 Februari tahun lalu rakyat Bahrain menggelar demonstrasi damai anti-rezim dan hingga kini unjuk rasa yang menuntut reformasi dan diakhirinya diskriminasi itu dilakukan dengan damai pula. Meski demikian, demonstrasi itu disambut dengan kekerasan oleh pasukan keamanan Bahrain yang dibantu oleh militer Saudi.

Pasukan Bahrain bersama militer Saudi menyambut kebangkitan rakyat dengan gas beracun dan peluru karet dan tajam sehingga puluhan pengunjuk rasa tewas dan ratusan lainnya terluka selama gelombang protes melanda negara di pesisir Teluk Persia itu. Pihak berwenang Bahrain juga menangkap ratusan lainnya termasuk dokter dan perawat karena membantu demonstran yang terluka. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Komisi Investigasi Independen Bahrain pada November 2011 lalu menemukan bahwa rezim Al Khalifa menggunakan ‘kekuatan yang berlebihan’ untuk memberangus protes rakyatnya sendiri. Kelompok HAM ini juga menuduh rezim Manama menyiksa para aktivis, politisi, dan demonstran.

Rakyat Bahrain melanjutkan aksi protes menentang rezim Al Khalifa di tengah gencarnya represi petugas keamanan terhadap pengunjuk rasa. Sejak pertengahan Februari 2011 lalu, para pemrotes anti-rezim menggelar demonstrasi rutin di jalan-jalan Bahrain, menuntut pembubaran rezim Al Khalifa. Asosiasi Dokter untuk Hak Asasi Manusia mengatakan dokter dan perawat ditahan, disiksa, dan bahkan dihilangkan paksa karena mereka memiliki bukti kekejaman yang dilakukan oleh rezim dan aparat keamanan dalam menumpas kebangkitan rakyat.

Sejak setahun lalu, warga di berbagai kota di Arab Saudi, terutama di wilayah timur negara itu juga menggelar demonstrasi damai menuntut kebebasan, demokrasi dan pembentukan pemerintahan demokratis. Namun, demonstrasi damai tersebut disambut pasukan keamanan dengan kekerasan, penangkapan semena-mena dan penyiksaan, bahkan ulama terkemuka di negara itu Sheikh Nimr al-Nimr menjadi korban kebrutalan pasukan keamanan Saudi. Menurut Asosiasi Hak-Hak Sipil dan Politik Saudi, terdapat sekitar 30.000 tahanan politik mendekam di penjara negara itu.

Amnesti Internasional dalam sebuah pernyataannya, menuntut rezim Al Saud untuk menghormati hak-hak warga Saudi yang menggelar demonstrasi damai. Dikatakannya, Arab Saudi harus menghormati hak-hak warganya yang mengelar unjuk rasa damai. Statemen tersebut menambahkan, pasukan keamanan rezim Al Saud harus menghentikan penangkapan dan tekanan terhadap demonstran.

Sejak Februari 2011 lalu, para pengunjuk rasa secara rutin hampir setiap hari berdemontrasi, terutama di wilayah Qatif dan Awamiyah di Provinsi Timur. Mereka menyerukan pembebasan semua tahanan politik, kebebasan berekspresi dan berkumpul, serta mengakhiri diskriminasi yang meluas. Provinsi Timur yang kaya minyak menjadi titik fokus dari protes anti-rezim di Saudi. Menurut Human Rights Watch (HRW), rezim Saudi secara rutin merepresi rakyatnya sendiri.

Ironisnya, para pejabat Saudi justru memilih bungkam atas aksi penistaan terhadap Islam dan Rasulullah Saw. Pada tanggal 28 April 2012, Saudi menarik duta besarnya untuk Kairo Abdul Aziz al-Qattan. Sebab penarikan al-Qattan ini adalah karena warga Mesir berdemonstrasi di depan Kedubes Arab Saudi di Kairo dalam rangka memprotes penangkapan Ahmad al-Gizawi, seorang pengacara Mesir di bandara Jeddah. Para pejabat Saudi berdalih bahwa warga Mesir telah menghina Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Melalui penarikan dubesnya dari Kairo, Saudi menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah Mesir bahwa penghinaan terhadap Raja Saudi akan merusak hubungan kedua negara. Sekilas, sikap pemerintah Saudi itu merefleksikan kekuatan dan ketegasan politik luar negeri rezim Al Saud, bahwa Riyadh tidak akan mentolerir penghinaan terhadap Raja meski dilakukan oleh rakyat negara Arab sahabatnya. Akan tetapi bagaimana dengan penistaan terhadap Rasulullah Saw? Apakah para pejabat Saudi menunjukkan reaksi tegas yang sama atau bahkan lebih keras lagi? Menurut berbagai laporan, para politisi Saudi justru bungkam dan tidak berkomentar tentang penistaan terhadap Rasulullah Saw yang terjadi di Amerika Serikat. Kebungkaman ini terjadi di saat negara itu mengibarkan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah Saw.

Arab Saudi dan Bahrain merupakan sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Kedua negara itu membelanjakan kekayaannya triliun dolar, hanya untuk membeli mesin pembunuh dari AS dan kemudian digunakan untuk menghadapi rakyatnya sendiri. Pada bulan Mei 2012, Kerajaan Saudi menandatangani kontrak senilai 3 miliar dolar dengan Inggris untuk membeli jet tempur jenis Sea Harrier. Sementara itu, surat kabar Jerman melaporkan bahwa Saudi akan membeli 600-800 tank Leopard dari Jerman , setidaknya dua kali lipat dari jumlah perkiraan sebelumnya.

Tidak hanya itu, media-media Lebanon juga mengkonfirmasikan kontrak militer senilai 127 juta dolar antara Arab Saudi dan rezim Zionis Israel serta pembelian tujuh pesawat mata-mata Zionis. Televisi al-Manar Lebanon mengutip lembaga-lembaga militer yang meneliti soal persenjataan di Timur Tengah mengumumkan bahwa terjadi peningkatan nilai kontrak pembelian senjata antara negara-negara sekitar Teluk Persia dengan Amerika dan Eropa.

Data statistik menunjukkan bahwa antara bulan Juli 2011 hingga Juli 2012 terjadi lonjakan drastis pembelian senjata oleh negara-negara Arab, sekitar Teluk Persia, khususnya Saudi. Dalam laporan ini juga disebutkan mengenai persaingan ketat perusahaan-perusahaan Eropa, Amerika dan Israel untuk menjual senjata dan peralatan militer ke negara-negara sekitar Teluk Persia. Di bagian lain laporan itu menyebutkan, Saudi membeli 7 pesawat mata-mata tanpa awak dari perusahaan Israel yang nilainya mencapai 127 dolar.

Amerika Serikat dan Barat seakan menutup mata atas kejadian anti-kemanusiaan dan anti-demokrasi di Arab Saudi dan Bahrain, namun respon mereka berbeda terhadap apa yang terjadi di Suriah. Atas nama kemanusiaan dan demokrasi, AS dan Barat mendukung kelompok teroris untuk menumbangkan sebuah pemerintahan yang sah di Suriah. Negara-negara Barat seperti, AS dan Inggris menyatakan dukungan penuh kepada pihak oposisi Suriah bahkan memberikan bantuan finansial dan militer dengan alasan menegakkan nilai-nilai demokrasi di Suriah.

Sebaliknya, Barat mendukung penuh monarki mutlak di Arab Saudi dan Bahrain dalam menumpas protes rakyat yang menuntut demokrasi dan kebebasan. Mereka menutup mata terhadap tuntutan rakyat yang ingin menegakkan nilai-nilai demokrasi, bahkan Barat bungkam terhadap kekerasan yang dilakukan oleh militer Bahrain dan Saudi.

 
Leave a comment

Posted by on 22 December 2012 in Umum

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: