RSS

Strategisnya Indonesia : Arah baru perkembangan geopolitik dunia

13 Apr
KFX/IFX Multirole fighter

KFX/IFX Multirole Fighter.
Sumber: Ilustrasi.

Sejak berakhirnya era perang dingin yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet, telah terjadi ketidak seimbangan kekuatan utama dunia. Amerika sebagai satu – satunya negara kuat memperlihatkan sekaligus memanfaatkan hegemoninya atas negara – negara lain. Lihatlah konflik yang terjadi di Irak, Iran, Afganistan, Pakistan, Afrika bagian utara dimana kehadiran militer negeri Paman Sam begitu nyata. Konflik Irak misalnya, melalui Presiden George W. Bush, Amerika memutuskan menyerang Irak atas tuduhan sepihak atas kepemilikan senjata kimia yang sampai sekarang tidak jelas pembuktiannya.

Rentetan perang ini tidak saja melibatkan keunggulan teknologi militer atas lawan perangnya tapi juga memperlihatkan ‘hegemoni kelompok’ blok barat yang diwakili oleh Amerika dan NATO. Mereka benar – benar memanfaatkan ketidak hadiran kekuatan penyeimbang yang dulunya datang dari kekuatan Pakta Warsawa yang dimotori oleh Rusia.

Sementara di belahan dunia lain, di Afrika bagian utara dan sebagian timur tengah terjadi gelombang kesadaran baru dari rakyat yang dikenal dengan arabic spring, menuntut pergantian rezim yang dinilai tidak lagi bekerja demi kemakmuran rakyat. Gerakan ini dimulai 10 Desember 2010 ketika gelombang demostrasi dan protes rakyat berhasil menggulingkan pemerintahan di Tunisia diikuti Yaman dan Libya. Gelombang protes lain juga sedang berlangsung di Bahrain, Suriah, Aljeria, Iraq, Kuwait, Yordania, Maroko dan Arab Saudi. Kesadaran baru dunia arab ini tidak melulu soal pergantian rezim semata, tetapi juga menyangkut tata geopolitik kawasan yang akan mempengaruhi geopolitik dunia secara keseluruhan. Lihat saja bagaimana campur tangan asing dalam konflik – konflik tersebut. Kejatuhan pemimpin Libya, Moammar Khadafi oleh rakyatnya tidak lepas dari campur tangan militer Amerika dan NATO yang memberikan bantuan militer berupa payung udara kepada ‘pemberontak’. Pertanyaannya adalah, kenapa mereka mau membantu para ‘pemberontak’? Ialah karena Khadafi dikenal sebagai pemimpin yang membawa Libya menjadi sekutu Soviet di masa lalu. Mungkin perlu diingatkan bagaimana perubahan sikap Amerika memusuhi Iran sekarang ini dibandingkan sikap bersahabat mereka ketika Iran masih dipimpin oleh Shah reza Pahlevi yang pro barat sebelum ditumbangkan melalui revolusi islam tahun 1979.

Campur tangan asing jelas bukanlah suatu kebetulan. Ini merupakan usaha yang sengaja dilakukan untuk mempertahankan pengaruh atau mengembalikan pengaruh negara – negara adidaya dalam percaturan global. Kejatuhan Husni Mubarak di Mesir jelas menghawatirkan barat. Mereka takut Mesir akan jatuh ke tangan kekuatan Islam yang tidak pro barat seperti bagaimana Mubarak dikenal sebelumnya. Menarik untuk melihat sikap barat terhadap rezim yang akan berkuasa di Mesir setelah tumbangnya Husni Mubarak yang pro barat.

Melihat perkembangan tersebut, tidaklah mengherankan mengapa kemudian Rusia menolak pendekatan militer untuk menyelesaikan konflik nuklir Iran dan mati – matian menolak pergantian rezim di Suriah dengan cara – cara yang telah dilakukan barat terhadap Tunisia, Maroko dan Yaman. Suriah adalah kawan lama di era Soviet dan menjadi satu – satunya pangkalan militer Rusia yang masih tersisa di kawasan itu. Sedangkan Iran secara tegas menyatakan menolak zionisme dan berjanji akan menghancurkan zionisme yang notabene adalah sekutu abadi Amerika.

Posisi Indonesia

Awal tahun 2012, Presiden Amerika Barack Obama mengumumkan pengalihan fokus militer mereka ke Asia Pasifik dan berkurangnya anggaran militer akibat krisis yang melanda negeri itu. Perubahan ini oleh banyak kalangan dipicu oleh perubahan geopolitik di timur tengah, Pakistan dan Afganistan dan meningkatnya kehadiran militer Cina di laut cina selatan (LCS). Kehadiran militer Cina di LCS bukanlah hanya sekedar soal sengketa kepulauan Paracel dan Spratly antara Cina dan negara – negara kawasan itu (Vietnam, Filipina, Malaysia, Thailand dan Brunai) tapi juga menyangkut keinginan Cina untuk menjadikan LCS sebagai daerah penyangga militernya, yang berarti meniadakan eksistensi Taiwan yang selama ini didukung oleh Amerika. (Akankah Amerika memiliki syahwat untuk menjadikan kawasan LCS seperti apa yang terjadi di timur tengah ? semoga tidak).

Amerika merespon hadirnya militer Cina di kawasan ini dengan meningkatkan hubungan dengan sekutu lama mereka seperti penguatan kehadiran militer di Filipina dan penempatan kapal perang jenis Littoral Combat di Singapura sembari terus menawari negara seperti Malaysia, Singapura dan Australia dengan mesin – mesin perang lainnya semisal pesawat tempur F/A-18 Hornet, F-16, F-15 dan berbagai alutsista lainnya. Militer Paman Sam juga melihat kepentingan jangka panjang dengan penempatan 2500 marinir di Darwin, kapal selam di Perth dan penggunaan Pulau Cocos di Samudra Indonesia sebagai pangkalan untuk pesawat UAV mereka, Global Hawk.

Melihat perubahan geopolitik dunia dan meningkatnya isu ancaman regional termasuk potensi konflik di LCS dan konflik perbatasan dengan Malaysia, Presiden Yudhoyono menerapkan kebijakan peningkatan belanja pertahanan sebesar 150 trilyun hingga 2014 yang memang telah lebih dari 20 tahun tidak pernah dimodernisasi lagi baik karena ketiadaan anggaran atau akibat embargo, seperti yang terjadi pada skuadron F-16. Peningkatan belanja pertahanan ditujukan pada pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) atau kekuatan pokok minimum TNI dalam tugas pertahanan negara. Peningkatan belanja pertahanan ini diikuti dengan kebijakan agar pembelian alutsista TNI diprioritaskan pada produksi dalam negeri. Jika industri pertahanan dalam negeri belum mempunyai kemampuan untuk menyediakan baru kemudian dibolehkan membeli ke luar negeri dengan persyaratan adanya transfer teknologi dari negara asal sista.

Implementasi dari kebijakan ini terlihat dari penambahan 6 pesawat Su-30 dari Rusia lengkap dengan simulator dan sistem senjatanya, hibah 24 F-16 dari Amerika yang akan ditingkatkan setara blok 52, 16 buah pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan, kerjasama pengembangan pesawat tempur masa depan dengan Korea Selatan dalam proyek KFX/IFX dimana nantinya Indonesia akan mendapatkan 50 buah pesawat ini dari total 250 buah yang akan diproduksi, pembelian, alih teknologi dan alih pembuatan 3 buah kapal selam kelas U209/1400 dari Korea Selatan yang melengkapi 2 buah yang sudah dimiliki sekarang, 16 buah pesawat latih/tempur ringan Embraer Super Tucano dari Brazil untuk menggantikan Hawk yang sudah uzur, 8 buah KCR (kapal cepat rudal) dari PT. DI., retrofit tank AMX oleh PT. Pindad., pembelian MBT jenis Leopard A26 produksi Jerman, penelitian pengembangan kapal kombatan siluman yang dikerjakan bersama oleh perguruan tinggi dan industri nasional, pembuatan berbagai tipe heli angkut, serbu dan anti kapal selam oleh PT. DI, pengembangan dan produksi rudal C-705 dengan Cina dan masih banyak daftar belanja dan pengembangan serta rencana starategis lainnya.

Perubahan geopolitik dunia seperti yang terjadi di timur tengah, bangkitnya Rusia, Cina dan India, bergesernya fokus militer Amerika ke LCS dan krisis ekonomi yang terjadi di zona euro dan amerika sangat strategis bagi Indonesia. Perubahan ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanan, penguasaan teknologi dan pasar militer, meningkatkan pengaruh di kawasan dan pada akhirnya meningkatkan daya tawar Indonesia di mata dunia. sebagai dan meningkatnya kemampuan anggaran negara menjadikan posisi Indonesia semakin strategis.

Peran Indonesia sebagai negara terbesar (dan juga kekuatan militer terbesar) di kawasan semakin strategis. Meningkatnya peran strategis ini terlihat dari melunaknya sikap Amerika ditunjukkan dengan hibah 24 F-16 yang beberapa waktu lalu justru diembargo oleh mereka. Usaha – usaha Washington untuk mendekati Indonesia 2 tahun terakhir juga cukup gencar. Sebutlah 2 kali kunjungan Barack Obama dan Hillary Clinton yang disertai dengan berbagai macam peningkatan dana hibah baik dalam bidang pendidikan, budaya dan pembangunan demokrasi. Atau sebut pula pernyataan David Cameron yang saat ini sedang bertemu dengan Yudhoyono, yang menyebut bahwa setiap negara berhak memiliki pertahanan yang kuat, dan Indonesia layak memimpin dunia di masa depan. Retorika – retorika tersebut mesti dimanfaatkan sekaligus diwaspadai karena selalu disertai dengan kepentingan – kepentingan strategis mereka.

 
1 Comment

Posted by on 13 April 2012 in Politik & Hankam

 

Tags: , ,

One response to “Strategisnya Indonesia : Arah baru perkembangan geopolitik dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: