RSS

Berada di pertemuan 3 lempeng, Sulawesi rawan gempa dan tsunami

29 Oct

Akhir-akhir ini tsunami menjadi bencana yang amat menakutkan, bukan saja nyawa manusia dan harta benda, tsunami juga menghancurkan hamper semua infrastruktur apapun yang dilewatinya. Lihat tsunami yang terjadi di Jepang. Tidak terhitung jumlah kerugian materi dan nyawa yang melayang. Ada yang menyebut ratusan nyawa, atau bahkan perkiraan pemerintah Jepang menyebut kurang lebih dua puluh ribu orang meninggal meninggal atau hilang. Kerusakan infrastruktur pelabuhan, permukiman, transportasi dan instalasi pembangkit energy tenaga nuklir Fukushima yang menteror masyarakat dunia dengan bencana radiasinya. Atau tsunami Aceh 2004 yang menelan korban lebih kurang dua ratus lima puluh ribu orang di berbagai negara dengan seratus dua puluh ribu diantaranya merupakan penduduk pesisir Aceh dan sekitarnya. Tsunami ini menenggelamkan sebagian wilayah daratan pesisir menjadi laut untuk seterusnya.

NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), sebuah badan resmi pemerintah AS mencatat telah terjadi kurang lebih 2433 kali peristiwa tsunami di seluruh dunia, dengan 820 kali diantaranya diyakini pasti adalah tsunami. Dari 20 negara tersering diserang tsunami, Jepang menduduki peringkat pertama sedangkan Indonesia berada di peringkat kedua. Dari dua puluh Negara tersebut 353 kali atau 43% tsunami terjadi di asia, yaitu Jepang, Indonesia, Papua NG dan Filipina. Di Indonesia sendiri tercatat 71 kejadian tsunami atau hampir 9 % dari jumlah kejadian di dunia. Jika dihitung sejak awal millenium maka Indonesia mengalami tsunami sedikitnya 1 kali dalam 30 tahun. Berdasarkan sebarannya di Indonesia, hingga tahun 2010 telah terjadi tsunami di Maluku sebanyak 22 kali, Sumatera 18 kali, Nusa Tenggara 9 kali, Sulawesi 9 kali, Jawa dan Bali 8 kali dan Irian 9 kali.

Tsunami di perairan Sulawesi

Tsunami diakibatkan dislokasi dasar perairan dan sering dikaitkan dengan gempa bumi yang terjadi di laut, meskipun bisa juga terjadi akibat longsor dan erupsi gunung berapi. Ada 2 jenis gempa, yaitu (1) gempa tektonik dan (2) gempa vulkanik. Sudah menjadi kenyataan yang harus diterima bahwa Indonesia berada di tepian lempeng bumi yang senantiasa bergerak mencari kesetimbangan baru. Jika mengambil model pelat tectonic yang dibuat oleh US Department of State Geographer yang dapat dilihat dengan bebas lewat aplikasi Google Earth (gambar 1), maka pulau Sulawesi berada di sekitar daerah pertemuan 3 lempeng, yaitu lempeng Indo-Cina, Indo-Australia dan lempeng Filipina. Tepi lempeng Indo-Cina membentang di selatan dan utara pulau Sulawesi. Lempeng Indo-Australia di sebelah timur dan lempeng Filipina di sebelah timur laut. Pergerakan dinamis antar lempeng membuatnya dapat bersinggungan satu sama lainnya sehingga menimbulkan gempa, dan jika terjadi di laut, potensial menimbulkan tsunami jika kekuatan gempa di atas 6 SR (referensi lain menyebutkan di atas 5 SR). Garis kuning dan merah berturut-turut menunjukkan tepi lempeng tipe convergent plate boundary dan tipe transform plate boundary atau juga dikenal sebagai patahan. Kedua lempeng tersebut senantiasa bergerak dinamis dengan tipe gerakan yang berbeda.

Lempeng tektonik di sekitar Sulawesi.
Sumber: Google earth.

Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah misalnya, tercatat sebagai daerah rawan gempa karena memiliki aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia. Penyebab utamanya tidak lain adalah karena di kota Palu terdapat patahan kerak bumi (sesar) berdimensi cukup besar, dikenal dengan sesar Palu Koro. Sesar itu memanjang mulai dari Selat Makassar sampai pantai utara Teluk Bone dengan panjang patahan sekitar 500 km. Di Kota Palu, patahan itu melintas dari Teluk Palu masuk ke wilayah daratan, memotong jantung kota, terus sampai ke Sungai Lariang di Lembah Pipikoro, Donggala (arah selatan Palu). Sesar yang merupakan pertemuan lempeng-lempeng tektonik di bawah perut bumi itu jenis sesar aktif. Sesar itu terus bergerak satu sama lain dan memiliki sifat pergeseran sinistral (pergeseran ke arah kanan) dengan kecepatan geser sekitar 14-17 mm/tahun. Pergeseran pada lempeng-lempeng tektonik yang cukup aktif di sesar Palu Koro membuat tingkat kegempaan di wilayah ini juga dikategorikan cukup tinggi. Catatan seismograf pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Palu menyebutkan, hampir setiap menit Palu dan Donggala diguncang gempa. Hanya saja getarannya kecil-kecil, dan hanya bisa dicatat seismograf. Mengutip ungkapan Kepala BMKG Palu, Mudjianto, dalam sebuah situs internet sekitar September 2010, bahwa kota Palu diguncang gempa 600 kali dalam sebulan dengan kekuatan 3 sampai 6 SR memperlihatkan betapa tingginya aktifitas tektonik di kawasan ini.

Potensi gempa juga bertambah dengan fakta bahwa pulau Sulawesi dilewati oleh apa yang dikenal dengan formasi Pasific ring of fire yang menerus dari Jepang, Filipina, Maluku dan Sulawesi (lihat gambar 2). Formasi ini berupa sederetan gunung api yang menjadi tempat kurang lebih 450 gunung api aktif maupun tidak aktif atau sekitar 75% dari jumlah gunung api di seluruh dunia. Sekitar 90% gempa dan 80% gempa terbesar terjadi di sepanjang formasi ini.

Kembali ke soal tsunami, perlu dipahami bahwa tsunami hanya terbentuk jika gempa terjadi di laut, baik itu gempa tektonik maupun vulkanik. Dengan menyederhanakan mekanisme penjalarannya, jika terbentuk tsunami setinggi 50 cm di tepi lempeng sebelah utara Sulawesi (kedalaman 3000 m), maka saat mencapai tepi pantai pesisir utara Sulawesi (kedalaman 10 m), ketinggian tsunami akan menjadi lebih kurang 2,1 meter atau jika terbentuk tsunami setinggi 1 m di daerah pembangkitannya, maka di tepi pantai ketinggiannya menjadi lebih kurang 4 m. Kecepatan jalar tsunami berkurang dari 600 km/jam di kedalaman 3000 m menjadi 35 km/jam di kedalaman 10 m. Dengan mengetahui kecepatan rambat tersebut, kita dapat memperkirakan bahwa tsunami akan mencapai daratan kurang lebih 20 menit kemudian.

Melihat fakta di atas membawa kita pada kesadaran untuk menerima semuanya sebagai ‘gift’ dari sang maha pencipta. Disinilah letak sisi kemanusiaan kita dalam upaya memanusiakan manusia. Memang kejadian tsunami tidak sesederhana apa yang dijelaskan di atas. Masih banyak parameter lain yang masih harus diperhitungkan. Seperti jenis, letak dan kekuatan gempa, batimetri perairan yang tidak seragam, morfologi pesisir dan lain sebagainya. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah bahwa bencana itu mrupakan fungsi dari kekuatan bahaya dan kerentanan manusia. Bencana (termasuk kekuatannya) tidak bisa diintervensi oleh manusia. Saatnya bagi kita semua, masyarakat, pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk memperbaiki kerentanan manusia yang bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari meningkatkan pemahaman kita terhadap karakteristik bencana tsunami, pemetaan daerah terdampak bencana, penataan ruang dan pembuatan fasilitas pendukung, penyiapan masyarakat sadar bencana dan lain sebagainya. Sudahkah kita melakukan semua itu ?

 
Leave a comment

Posted by on 29 October 2011 in Akademik

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: