RSS

Belum Ada Judul

03 May

Mestinya setiap kita menjalani peran kemanusiaan dengan sabar dan ikhlas.

Sabar dan ikhlas. Dua perilaku yang (mestinya) dapat dipelajari dan diteladani ataukah entah pemberian Allah ? Sikap yang menempatkan karunia Allah sebagai syukur dan mengkonversi musibah menjadi kenikmatan.

Sabar dan ikhlas adalah soal perspektif semata, (dan akhirnya) subyektif, sedangkan karunia dan musibah adalah entitas tetap yang kadarnya absolut. Apakah hujan sebuah karunia atau malah sebuah musibah ? Sendal yang hilang saat kita shalat di mesjid, apakah sebuah musibah ? Hujan dan sendal hilang adalah realitas obyektif, peristiwa itu mempunyai nilai obyektifitas dan bobot absolutnya masing-masing, tetapi apakah itu sebuah musibah ataukah karunia sangat tergantung kesadaran subyektif manusia. Bagi seorang petani di Gunung Kidul, hujan menjadi sangat berbeda nilainya dengan ibu tetangga saya yang sedang menjemur pakaian. Bagi saya kehilangan sendal di mesjid adalah sebuah kehilangan besar, tetapi bagaimana bagi Aburizal Bakrie sang jutawan ?.

Saya menulis ini tengah malam menjelang subuh, saat si kecil Cila rewel dan minta dininabobokan. Di sela-sela pikiran tentang kerangka penelitian; model matematik, arus pasang surut, sedimen kohesif, pendangkalan muara, biaya penelitian……ah entahlah, semuanya campur aduk menjadi satu. Tapi bukankah orang lain juga menghadapi berbagai masalah, dengan berbagai kadar dan bentuknya, yang mungkin sama atau juga tidak sama ? Salah satu akar kata “manusia” atau “an-nas” dalam bahasa Qur’an berarti “masalah” kata Qurais Shihab. “Masalah” lahir bersamaan dengan kelahiran seorang manusia. Yang membedakan hanyalah keadaan si manusia dan perspektif subyektifnya. Lalu bagaimana perasaan dan sikap Ibrahim ketika menerima perintah menyembelih Ismail ? Sikap Idris menjalani sakit seumur hidupnya? Atau Muhammad ketika konon sering dilempari kotoran oleh orang-orang kafir Quraish ? Apakah kesabaran dan keikhlasan mereka yang kesohor itu merupakan karunia Allah karena jabatan mereka seorang Nabi ? Ataukah justru karena perilaku utama tersebut yang menjadikan mereka Nabi ?

Mranggen Kidul – Jogja, April 2010

 
Leave a comment

Posted by on 3 May 2011 in Umum

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: