RSS

Pentingnya simulasi bencana

13 Apr

Bencana berbeda dengan bahaya atau ancaman. Bahaya atau ancaman mengandung arti kejadian yang merusak baik berupa potensi atau kejadian yang telah terjadi. Suatu bahaya dapat dikatakan bencana apabila kejadiannya telah merusak dan merugikan manusia. Sebagai contoh misalnya bahaya banjir. Banjir hampir setiap saat terjadi di alam mengiringi kejadian hujan dengan intensitas tinggi. Banjir yang terjadi di sungai di hutan belantara tak berpenghuni bukanlah sebuah bencana dalam pengertian ini karena tidak menimbulkan kerugian pada manusia.

Bencana juga mempunyai perspektif lain, yaitu menyangkut kerugian/ korban yang ditimbulkan. Dua buah bencana dengan skala besar sama belum tentu menimbulkan kerugian yang sama pada manusia. Ada faktor kerentanan manusia di dalamnya yang berperan dalam menentukan besarnya kerugian yang ditimbulkan.

Dalam hal bencana alam, dimana skala bahayanya tidak dapat dikecilkan apalagi dikendalikan, faktor kerentanan amat besar berperan mengurangi dampak bencana tersebut baik yang bersifat kerugian materil harta benda maupun korban jiwa. Usaha – usaha untuk meningkatkan daya tahan dan kesiapan manusia menghadapi bencana inilah yang kita kenal sebagai upaya mitigasi.

Beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah: riset penelitian potensi bahaya alam, penyiapan tata ruang, pembuatan jalan dan akses transportasi, pembuatan titik evakuasi, penyiapan bangunan tahan bencana, pendidikan sadar bencana bagi masyarakat, kesiapan organisasi penangulangan bencana dan sistem peringatan dini.

Simulasi bencana dapat dilakukan dalam dua bentuk, yang pertama adalah simulasi tentang perilaku fisik kejadian bencana dan dan simulasi saat terjadinya bencana. Simulasi yang pertama melibatkan para ahli di bidang kebencanaan, khususnya mereka yang mempelajari fenomena fisik bencana. Fenomena ini yang menyangkut, sumber pemicu bencana, skala magnitudnya, luas daerah pengaruhnya, penjalarannya (dalam kasus tsunami), daya rusak dan waktu yang dimiliki manusia untuk merespon bencana tersebut. Fenomena – fenomena ini biasanya dianalisa dan dan dijadikan menjadi satu kesatuan guna melihat interaksi satu fenomena dengan lainnya. Dengan bantuan kemajuan komputer dan teknologi, berbagai simulasi dari fenomena kejadian bencana dapat dengan mudah disusun dan dilihat responnya untuk kemudian dievaluasi dan dijadikan rujukan guna mempersiapkan kegiatan mitigasi lain menjadi lebih baik.

Sedangkan simulasi yang kedua bermanfaat memberikan pengalaman kepada masyarakat bagaimana sebaiknya bertindak saat terjadinya bencana. Masyarakat diberikan pemahaman dan pengalaman tentang perilaku bencana, jalur – jalur evakuasi, pola pikir dan tindakan yang perlu atau tidak perlu dilakukan saat terjadi bencana, memanfaatkan jalur – jalur evakuasi, memanfaatkan sistem informasi yang telah dibuat sebelumnya dan yang paling penting adalah memutuskan tindakan yang harus diambil dalam waktu yang singkat itu dengan mental yang baik.

Gempa dengan kekuatan 8,5 SR yang baru saja terjadi 11 April 2012 di pantai barat Aceh menguji upaya – upaya mitigasi bencana yang telah dilakukan sebelumnya pasca tsunami Aceh 2004. Dari pemberitaan di media TV nasional terlihat bahwa masyarakat pesisir barat Sumatera kini lebih siap menghadapi bencana dengan tentu saja tidak terlepas dari rasa syukur kita bahwa gempa tersebut tidak menimbulkan tsunami hanya untuk sekedar menguji kesiapan tersebut.

BMKG sebagai otoritas sumber informasi kebencanaan nasional terlihat lebih siap dari sebelumnya. Saat itu juga mereka telah bisa memberikan peringatan potensi terjadinya tsunami, memperkirakan daerah terdampak, memperkirakan tinggi tsunami jika menjangkau pantai di sepanjang tepi barat Sumatra, menghitung lama waktu gelombang besar tersebut menjangkau daerah terdampak dan yang paling penting adalah menyebarluaskan informasi tersebut sehingga dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat yang lebih luas.

BMKG dapat menjelaskan fenomena tsunami (tinggi, daerah terdampak, waktu perjalanan dan daya rusak) tersebut dikarenakan mereka telah memanfaatkan sebuah model simulasi tsunami berbasis teknologi komputer yang bersumber dari pemahaman yang baik atas fenomena fisik tsunami yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa matematik yang kemudian disusun menjadi program – program komputer terintegrasi dengan sistem peringatan dini.

Model – model komputasi semacam ini dewasa ini juga telah dapat dimanfaatkan untuk mitigasi bencana banjir, tanah longsor dan gempa bumi bahkan juga sejak lama dimanfaatkan untuk mitigasi bencana non-alam seperti pembuatan bangunan tahan gempa dan kebakaran, penanggulangan pencemaran minyak di laut dan pencegahan dampak negatif dari reklamasi perairan pantai. Memanfaatkan model – model komputasi ini pada akhirnya akan sangat membantu meningkatkan ketahanan masyarakat dan pemerintah serta pihak terkait lainnya dalam upaya meminimalisir kerugian akibat bencana.

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on 13 April 2012 in Akademik, Teknologi, Umum

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers

%d bloggers like this: